Inkontinensia Urine

Inkontinensia Urine: Penyebab, Jenis-jenis, & Terapi Pengobatan

Inkontinensia Urine adalah suatu kondisi hilangnya kontrol terhadap kandung kemih, sehingga seseorang tidak dapat mengontrol buang air kecil. Kebocoran urine ini seringkali tak terkendali, sehingga dapat berdampak buruk bagi kesehatan dan kehidupan sehari-hari.

Permasalahan inkontinensia urine seringkali dikaitkan dengan faktor usia. Padahal faktanya, kondisi ini bukanlah konsekuensi penuaan yang tak dapat dihindarkan. Oleh karena itu, permasalahan inkontinensia tak jarang ditemui oleh orang yang masih berusia muda.

Penyebab Inkontinensia Urine

Pada dasarnya inkontinensia urine disebabkan oleh rusak atau melemahnya otot dasar panggul dan sfingter uretra. Sebagai informasi, kedua otot tersebut berfungsi untuk mengontrol dan mencegah buang air kecil yang tidak diinginkan.

Hilangnya kontrol terhadap buang air kecil juga dapat terjadi akibat kondisi atau pengobatan medis. Dalam kasus ini, inkontinensia biasanya dapat sembuh seiring terapi atau pengobatan telah selesai dilakukan.

Namun jika dalam kondisi medis yang kronis, biasanya inkontinensia membutuhkan waktu lebih lama untuk disembuhkan. Dalam kondisi parah, bahkan inkontinensia dapat dianggap sebagai gejala dari permasalahan medis yang dialami.

Penyebab inkontinensia urine dapat terbagi menjadi dua, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan inkontinensia jangka pendek:

  • Infeksi saluran kemih.
  • Masa kehamilan.
  • Efek samping dari obat-obatan.
  • Sembelit.
  • Terlalu banyak minum kopi, soda, atau alkohol.
  • Konsumsi makanan yang tinggi rempah-rempah, gula, atau makanan asam.
  • Vitamin C dengan dosis tinggi.
  • Konsumsi obat penenang, obat jantung, dan obat tekanan darah.

Lalu untuk inkontinensia urine dalam jangka panjang, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi, seperti:

  • Gangguan otot dasar panggul.
  • Stroke.
  • Diabetes.
  • Menopause.
  • Multiple sclerosis.
  • Pembesaran prostat.
  • Operasi kanker prostat.

Baca juga:

Jenis-jenis Inkontinensia Urine

Jenis-jenis Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine juga terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Stress Incontinence

Kondisi hilangnya kontrol buang air kecil akibat tekanan pada kandung kemih. Misalnya pada saat tertawa, bersin, batuk, angkat beban, dan olahraga berat.

  • Urge Incontinence

Kondisi ketika seseorang memiliki dorongan untuk buang air kecil secara tiba-tiba dan tidak dapat menahannya. Hal ini juga terjadi akibat kontraksi berlebih pada otot kandung kemih.

  • Overflow Incontinence

Jenis inkontinensia ini terjadi akibat seseorang tidak bisa mengosongkan kandung kemihnya. Hal inilah yang membuatnya sulit mengontrol buang air kecil. Kondisi ini juga dapat disebut dengan retensi urin kronis.

  • Total Incontinence

Total Incontinence terjadi ketika kandung kemih tak dapat menyimpan urine sama sekali, sehingga seseorang terus-menerus buang air kecil.

Dalam beberapa kasus, jenis inkontinensia urine di atas juga dapat terjadi secara bersamaan. Jika kondisi sudah mendesak, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter yang bersangkutan.

Gejala Inkontinensia Urine

Permasalahan inkontinensia memiliki gejala yang cukup mudah untuk dikenali. Gejala utamanya adalah sulitnya mengontrol buang air kecil. Gejala lain yang dapat timbul adalah urine yang terus menerus menetes, ataupun mengalami kebocoran urine dalam jumlah besar.

Gejala inkontinensia juga dapat diperhatikan pada saat kondisi tertentu, seperti:

  • Olahraga.
  • Bersin.
  • Batuk.
  • Tertawa.
  • Angkat beban.
  • Buang air kecil namun tak tepat waktu untuk pergi ke toilet.
  • Bangun tengah malam karena ingin buang air kecil.

Bagi penderita inkontinensia urine, beberapa kondisi di atas dapat memicu terjadinya kebocoran urine. Apabila kondisi ini terjadi, sebaiknya segera lakukan langkah penanganan secepatnya.

Cara Mencegah Inkontinensia Urine

Inkontinensia urine tidak selalu dapat dicegah. Namun ada beberapa hal yang dapat diupayakan, untuk mengurangi risiko dari permasalahan ini, yaitu:

  • Mempertahankan berat badan ideal.
  • Melatih otot dasar panggul.
  • Hindari iritasi kandung kemih.
  • Hindari terlalu banyak konsumsi kafein, alkohol, dan makanan asam.
  • Perbanyak konsumsi makanan yang berserat, untuk mencegah sembelit penyebab inkontinensia urine.
  • Hentikan kebiasaan merokok.
  • Rutin melakukan olahraga.

Baca juga:

Pengobatan Inkontinensia Urine

Terapi Mengatasi Inkontinensia Urine - Sulit Mengontrol Buang Air Kecil

Upaya untuk mengobati inkontinensia sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun harus diperhatikan, bahwa pengobatan biasanya disesuaikan oleh jenis, penyebab, dan gejala dari inkontinensia itu sendiri.

Oleh karena itu, jika kamu memiliki permasalahan inkontinensia, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Hal ini berguna untuk mendiagnosis inkontinensia secara tepat, dan memberikan terapi yang sesuai dengan kebutuhan.

Dalam hal ini, ada tiga kategori pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi inkontinensia urine, yaitu:

  1. Obat-obatan

Penggunaan obat untuk mengatasi inkontinensia urine, umumnya lebih digunakan pada penderita urge incontinence. Berikut adalah beberapa obat yang umumnya digunakan:

  • Oxybutynin.
  • Tolterodin.
  • Solifenacin.
  • Fesoterodin.
  • Darifenacin.
  • Trospium.
  • Mirabegron.
  • Obat antidepresan — Imipramine (Norfranil, Tipramine, Trofranil).

Beberapa jenis obat di atas memiliki fungsinya masing-masing. Contohnya seperti mengatasi kandung kemih yang terlalu aktif, mengendurkan otot kandung kemih, hingga mengontrol kontraksi otot panggul dan kelenjar prostat.

Penggunaan obat tersebut harus memiliki resep dari dokter. Sebab pengobatan harus disesuaikan dengan jenis dan gejala dari inkontinensia urine itu sendiri. Pastikan juga untuk berkonsultasi dengan dokter yang terkait, yaa!

  1. Operasi dan Terapi Medis

Inkontinensia urine juga dapat diatasi dengan cara operasi dan terapi medis. Metode yang satu ini biasanya dilakukan ketika inkontinensia sudah dalam kondisi yang parah. Berikut adalah beberapa metode operasi dan terapi medis yang dapat dilakukan:

  • Operasi pemasangan penyangga (sling). Operasi penyangga ini akan dipasang di leher kandung kemih. Tujuannya adalah untuk mencegah dan menahan kebocoran urine.
  • Operasi menaikkan leher kandung kemih. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran urine, terutama pada saat kandung kemih mengalami tekanan.
  • Operasi pemasangan otot buatan di sekitar leher kandung kemih. Operasi ini bertujuan untuk mencegah urine keluar, hingga seseorang ingin benar-benar buang air kecil.
  • Operasi pemasangan jaring tipis di belakang saluran kemih. Tindakan yang satu ini berguna untuk menopang saluran kemih agar tetap berada di posisinya.
  • Operasi perbaikan organ panggul yang turun. Operasi ini berguna untuk mengembalikan posisi panggul ke kondisi normal, dan berguna untuk mencegah kebocoran urine.
  • Suntik botox dilakukan dengan obat botulinum toxin. Terapi medis ini berguna untuk melemaskan otot kandung kemih yang terlalu aktif.
  • Pemasangan cincin pesarium berguna untuk mencegah turunnya rahim. Dengan begitu inkontinensia urine dapat dicegah.
  1. Intimate Chair

Selain kedua metode di atas, kini upaya untuk mengatasi inkontinensia urine, dapat ditangani dengan teknologi canggih. Caranya adalah dengan melakukan perawatan di klinik kecantikan, yang bernama Intimate Chair.

Perawatan yang satu ini menggunakan alat berbentuk kursi, yang berteknologi gelombang kejut elektromagnetik. Kursi yang digunakan dalam perawatan yang satu ini, bernama The NOVAmag NT-60.

Dengan gelombang kejut elektromagnetik yang dipancarkan, kursi ini akan menghantarkan medan magnet yang berfokus pada area otot-otot dasar panggul.

Selain dapat mengatasi permasalahan inkontinensia urine, Intimate Chair bahkan dapat berguna untuk mengencangkan otot vagina, mengobati prostatitis kronis, hingga dapat digunakan sebagai terapi disfungsi ereksi.

Perawatan Intimate Chair juga sangat minim terhadap efek samping. Agar hasilnya efektif, pasien inkontinensia biasanya disarankan untuk melakukan beberapa kali sesi pengulangan prosedur. Jumlah yang disarankan adalah tiga sesi dalam tiap minggu, dan dilakukan hingga 15 kali sesi.

Konsultasi dengan Dokter

Kebanyakan orang yang mengalami inkontinensia, biasanya telat dalam mendiagnosis kondisinya. Oleh karena itu, ada beberapa kondisi yang wajib diperhatikan, agar kamu bisa mendapat saat yang tepat untuk pergi ke dokter.

Berikut adalah waktu yang tepat kapan kamu harus berkonsultasi dengan dokter:

  • Kehilangan kontrol buang air kecil hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
  • Penurunan kualitas hidup akibat buang air yang tak terkontrol.
  • Terjadi inkontinensia urine secara mendadak akibat cedera.
  • Sulit berjalan dan berbicara.
  • Penglihatan terasa kabur.
  • Merasa kesulitan dalam buang air besar.
  • Penurunan kesadaran atau merasa linglung.

Jika kamu ingin berkonsultasi dan mengatasi inkontinensia urine dengan Intimate Chair, segera hubungi Beautylogica Clinic. Untuk informasi dan reservasi, segera hubungi nomor 0819 0500 0000.

About Ridwan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.